PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA SATUAN JANGKA SORONG MELALUI PEMBELAJARAN PEMESINAN FRAIS SEBAGAI PERSIAPAN SISWA YANG MEMILIKI KOMPETENSI YANG BAIK, TELITI DALAM BEKERJA, SERTA SIAP MENGHADAPI TUNTUTAN DUNIA INDUSTRI

Dalam rangka pelaksanaan Praktik Kependidikan (PK), Muhammad Rizza Wicaksana, mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Mesin Universitas Negeri Yogyakarta, melaksanakan kegiatan program pembelajaran praktik pemesinan frais dengan fokus pada peningkatan kemampuan peserta didik dalam membaca satuan jangka sorong pada bulan September 2026. Kegiatan pembelajaran ini diarahkan untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4, yaitu Quality Education (Pendidikan Berkualitas). Keterkaitan kegiatan dengan SDGs poin 4 terletak pada upaya meningkatkan kualitas pembelajaran vokasi melalui penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. 

Tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan kemampuan peserta didik dalam membaca skala dan satuan pada jangka sorong serta menerapkannya secara tepat dalam proses pemesinan frais. Kemampuan membaca alat ukur menjadi kompetensi penting karena ketelitian pengukuran sangat menentukan kesesuaian dimensi benda kerja dengan gambar kerja. Dalam praktik pemesinan frais, peserta didik dilatih untuk memahami satuan pengukuran, membaca skala utama dan skala nonius jangka sorong, serta melakukan pemeriksaan dimensi benda kerja secara mandiri. 

Proses pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian materi dasar pengukuran, demonstrasi penggunaan dan pembacaan jangka sorong, latihan membaca berbagai ukuran, kemudian dilanjutkan dengan praktik pemesinan frais. Peserta didik melakukan pengukuran benda kerja secara bertahap dan membandingkan hasil pengukuran dengan ukuran yang telah ditentukan. Pendekatan praktik langsung tersebut memberikan pengalaman belajar yang lebih nyata sekaligus melatih ketelitian, tanggung jawab, dan keterampilan peserta didik.  

Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kemampuan peserta didik dalam membaca satuan jangka sorong dan melakukan pengukuran benda kerja. Peserta didik menjadi lebih memahami hubungan antara hasil pengukuran dengan proses pengerjaan pada mesin frais. Peningkatan ketelitian tersebut secara langsung mendukung SDGs poin ke-4 melalui pembelajaran vokasi yang menekankan keterampilan, ketelitian, dan penerapan pengetahuan secara nyata. Pendidikan berkualitas tidak hanya ditunjukkan melalui pemahaman teori, tetapi juga melalui kemampuan peserta didik menerapkan kompetensi dalam kegiatan praktik. 

Harapannya, pembelajaran pengukuran menggunakan jangka sorong dapat terus diterapkan secara konsisten dalam praktik pemesinan frais. Dengan penguatan latihan pengukuran dan praktik secara berkelanjutan, peserta didik diharapkan memiliki kompetensi yang lebih baik, teliti dalam bekerja, serta siap menghadapi tuntutan dunia industri.