
You are here
Tak Hanya Soal Luka Bakar, Siswa TPFL SMKN 2 Klaten Belajar Cegah Penyakit Akibat Kerja
Ruang kelas Jurusan Teknik Pengelasan dan Fabrikasi Logam (TPFL) SMK Negeri 2 Klaten pagi itu tidak dipenuhi suara gerinda maupun bau asap las seperti biasanya. Para siswa kelas X tampak duduk rapi menyimak materi yang disampaikan di depan kelas, jauh dari hiruk-pikuk bengkel praktik. Namun, apa yang dibahas dalam ruangan itu justru menjadi fondasi penting yang akan menentukan keselamatan mereka bertahun-tahun ke depan, jauh setelah mereka lulus dan terjun ke dunia industri.
Kegiatan belajar mengajar tersebut merupakan bagian dari Praktik Kependidikan (PK) yang dijalankan oleh Rizal Hermawan Saputra, mahasiswa Pendidikan Teknik Mesin Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), pada saat memasuki minggu ke-8 pelaksanaanya. Berbeda dari sesi-sesi sebelumnya yang lebih menyoroti isu efisiensi material, kali ini fokus pembelajaran diarahkan sepenuhnya pada materi Kesehatan, Keselamatan, dan Lingkungan Hidup (K3LH), sejalan dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera.

Selama ini, keselamatan kerja di bengkel las sering dipahami secara sempit, yakni sebatas upaya menghindari percikan api atau luka bakar akibat kontak langsung dengan logam panas. Padahal, ancaman yang sesungguhnya justru lebih banyak bersembunyi dalam bentuk yang tidak kasatmata dan bekerja secara perlahan, menggerogoti kesehatan pekerja dalam jangka panjang. Kesadaran inilah yang coba ditanamkan sejak dini kepada siswa kelas X, bahwa keselamatan kerja bukan hanya soal mencegah kecelakaan yang terlihat, melainkan juga mencegah penyakit akibat kerja (occupational disease) yang baru muncul dampaknya bertahun-tahun kemudian.
Dalam sesi pembelajaran ini, siswa dikenalkan pada tiga bahaya utama yang kerap luput dari perhatian. Pertama, radiasi sinar las yang dapat merusak mata secara bertahap apabila terpapar tanpa pelindung yang memadai, mulai dari iritasi ringan hingga risiko gangguan penglihatan permanen. Kedua, bahaya asap las atau fume yang jika terhirup secara terus-menerus dapat mengendap di paru-paru dan memicu gangguan pernapasan kronis. Ketiga, aspek ergonomi kerja yang sering diabaikan, padahal posisi tubuh yang tidak tepat saat mengelas dalam waktu lama berisiko menyebabkan gangguan tulang belakang di kemudian hari.
Ketiga topik tersebut sengaja disampaikan secara mendalam melalui kelas teori sebelum siswa diizinkan memegang peralatan las yang sesungguhnya. Pendekatan ini didasari pemahaman bahwa membangun mindset keselamatan jauh lebih efektif dilakukan sejak awal, sebelum kebiasaan kerja di lapangan terbentuk. Ibarat membangun rumah, fondasi pengetahuan K3LH perlu dikokohkan lebih dulu agar praktik-praktik yang dilakukan setelahnya, betapapun teknisnya, tetap berpijak pada kesadaran akan risiko.
Untuk memastikan materi K3LH benar-benar terserap, bukan sekadar formalitas yang lewat begitu saja, pembelajaran ini dilengkapi dengan modul ajar yang disusun secara sistematis serta instrumen asesmen berupa soal-soal evaluasi. Melalui soal evaluasi tersebut, tingkat pemahaman kognitif siswa terhadap risiko kerja dapat diukur secara lebih objektif, mulai dari kemampuan mengidentifikasi jenis bahaya, memahami fungsi Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai, hingga menjelaskan dampak jangka panjang apabila prosedur keselamatan diabaikan.
Proses evaluasi ini dianggap penting sebagai penanda bahwa pengetahuan keselamatan bukan lagi sekadar informasi yang didengar sekali lalu terlupakan, melainkan telah menjadi bagian dari cara berpikir siswa. Sebab, pengetahuan yang hanya berhenti di permukaan akan mudah terabaikan begitu siswa dihadapkan pada tekanan pekerjaan atau rutinitas praktik yang padat.
Pembelajaran K3LH yang menyasar aspek kognitif ini menunjukkan pergeseran cara pandang dalam pendidikan vokasi, dari yang semula berorientasi murni pada keterampilan teknis, menuju pembentukan kesadaran kesehatan kerja yang utuh. Dengan mindset keselamatan yang telah terbangun sejak di bangku kelas, siswa diharapkan mampu membawa kebiasaan tersebut secara konsisten ketika kelak berada di lingkungan industri sesungguhnya, tempat risiko kesehatan kerja hadir setiap hari namun kerap luput dari perhatian.
Langkah ini menjadi pengingat bahwa menyiapkan lulusan SMK yang siap kerja tidak cukup hanya dengan membekali kemampuan teknis semata. Kesehatan dan keselamatan jangka panjang para pekerja masa depan turut menjadi tanggung jawab yang harus ditanamkan sejak dini, sejalan dengan cita-cita mewujudkan kehidupan kerja yang sehat dan sejahtera bagi generasi industri berikutnya.
Pengisian Data
Contact Us

Copyright © 2026,
