PENINGKATAN KOMPETENSI PENGELASAN SMAW DAN BUDAYA K3 SISWA SMKN 2 PENGASIH SEBAGAI FONDASI PENYIAPAN SDM INDUSTRI DAN INFRASTRUKTUR

Dalam rangka pelaksanaan Praktik Kependidikan (PK), Fajar Dwy Permana, mahasiswa sarjana Pendidikan Teknik Mesin Universitas Negeri Yogyakarta, menyelenggarakan program pendampingan praktik Shielded Metal Arc Welding (SMAW) pada bulan Agustus 2026. Kegiatan ini dilaksanakan di bengkel fabrikasi SMKN 2 Pengasih dengan sasaran peserta didik kelas vokasi. Program ini dirancang khusus untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-9, yaitu Industry, Innovation, and Infrastructure (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur). Keterkaitan kegiatan ini dengan SDGs poin 9 terletak pada upaya penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM) teknis yang terampil dan sadar keselamatan kerja untuk memenuhi kebutuhan sektor manufaktur, perkapalan, dan pembangunan infrastruktur berskala besar.

Tujuan utama dari pendampingan ini adalah membekali siswa dengan keterampilan motorik pengelasan yang presisi serta pemahaman mendalam terkait inspeksi weld defect (cacat las) sesuai standar industri. Proses pelaksanaannya dimulai dengan penerapan safety briefing Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) secara ketat, penyampaian materi dasar metalurgi las, demonstrasi pengelasan SMAW, dan diakhiri dengan praktik mandiri oleh siswa. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa praktikan sebagai instruktur utama, guru pamong sebagai supervisor pembelajaran, serta teknisi bengkel yang menjamin kelayakan fasilitas mesin las dan alat pelindung diri. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada kemampuan teknis siswa dalam menghasilkan kampuh las yang berkualitas dan minim cacat. Dampak positif lainnya adalah terbentuknya budaya kerja industri yang disiplin, terutama dalam kepatuhan terhadap prosedur K3 di lingkungan fabrikasi.

Secara langsung, pencapaian ini berkontribusi pada SDGs poin ke-9 dengan menciptakan rantai pasok tenaga kerja vokasi yang kompeten. Lulusan yang memiliki standar pengelasan tinggi dan mentalitas K3 yang kuat akan menjadi aset berharga dalam mendorong inovasi proses produksi dan memastikan keandalan konstruksi infrastruktur nasional di masa depan. Harapan ke depannya, standar operasional pengajaran praktik dan rutinitas safety briefing yang telah diterapkan selama program PK ini dapat diadopsi sebagai standar tetap di bengkel SMKN 2 Pengasih. Sebagai tindak lanjut, disarankan adanya kolaborasi yang lebih erat antara pihak sekolah dengan industri manufaktur atau perkapalan lokal, guna memfasilitasi uji sertifikasi profesi pengelasan bagi siswa. Hal ini akan semakin memperkuat keselarasan antara kompetensi lulusan vokasi dengan tuntutan inovasi dan kualitas di sektor industri dan infrastruktur.