Penguatan Preventive Maintenance Dukung Pembelajaran Pengecoran Logam di SMK Negeri 1 Binangun

 

Upaya meningkatkan kualitas pembelajaran vokasi tidak hanya bergantung pada kemampuan mengoperasikan mesin, tetapi juga pada kesiapan dan keberlanjutan sarana praktik. Berangkat dari kebutuhan tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Dosen Berkegiatan di Luar Kampus (DLK) Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta melaksanakan program Pelatihan Penerapan Preventive Maintenance pada Furnace dan Mesin Sand Muller untuk Mendukung Pembelajaran Pengecoran Logam yang Berkelanjutan di SMK Negeri 1 Binangun.

Kegiatan yang dilaksanakan di SMK Negeri 1 Binangun, Kecamatan Binangun, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah tersebut diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru, teknisi, serta siswa dalam melakukan pemeliharaan peralatan secara terencana. Program sekaligus mendorong penguatan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) serta membangun budaya pemeliharaan sebagai bagian dari pembelajaran praktik di bengkel sekolah.

Tim PkM diketuai oleh Dr. Ir. Aan Ardian, S.Pd., M.Pd., dengan anggota Dr. Drs. Yatin Ngadiyono, M.Pd., Ir. Virda Hersy Lutviana Saputri, S.T., M.T., dan Andrian Wisnu Dewangga, S.Pd., M.Pd. Kegiatan juga melibatkan mahasiswa Pendidikan Teknik Mesin UNY, yaitu Fasha Bakhtiar Al Ghifari, Marsekal Prasetya Abdi Negara, Marchellino Radja Winandra, Muhammad Fadhillah, dan Rifqi Fadhlan Arifin. Mahasiswa terlibat dalam persiapan, pendataan kondisi awal, fasilitasi praktik, dokumentasi, serta monitoring kegiatan.

Pelaksanaan program mencakup koordinasi dan identifikasi kondisi awal peralatan, sosialisasi, pelatihan teori, praktik preventive maintenance pada furnace dan mesin sand muller, penerapan sistem dokumentasi pemeliharaan, hingga pendampingan dan evaluasi. Peserta memperoleh pemahaman mengenai perbedaan pemeliharaan preventif dan korektif, identifikasi gejala awal kerusakan, pemeriksaan komponen kritis, pembersihan, pelumasan, serta penerapan prosedur K3.

Pada furnace, peserta diarahkan untuk memahami pemeriksaan sistem pemanas, panel, indikator dan sensor temperatur, ruang bakar, crucible, serta refractory. Sementara pada mesin sand muller, praktik difokuskan pada pemeriksaan motor, sistem transmisi, bearing, paddle, pelumasan, kebersihan, serta komponen pendukung lainnya. Melalui praktik tersebut, peserta didorong tidak hanya mampu menggunakan peralatan, tetapi juga mengenali kondisi yang berpotensi menimbulkan gangguan sejak dini.

Salah satu penguatan penting dalam program ini adalah penerapan sistem preventive maintenance terintegrasi. Sistem tersebut dikembangkan melalui SOP, checklist inspeksi harian, mingguan dan bulanan, buku log jam operasi, kartu riwayat kerusakan dan perawatan, jadwal pemeliharaan, pembagian penanggung jawab peralatan, serta jobsheet pembelajaran berbasis maintenance culture. Dokumen pemeliharaan tersebut tidak hanya berfungsi untuk mengendalikan kondisi peralatan, tetapi juga dikembangkan menjadi media pembelajaran bagi siswa.

Melalui pendekatan tersebut, pembelajaran pengecoran logam diharapkan semakin dekat dengan budaya kerja industri yang menekankan kedisiplinan, ketelitian, keselamatan, kebersihan, dokumentasi, serta tanggung jawab terhadap kondisi peralatan. Guru dan teknisi berperan dalam melakukan verifikasi hasil pemeriksaan, sedangkan siswa dapat dilibatkan dalam inspeksi dan perawatan dasar sesuai kewenangan dengan tetap berada di bawah pengawasan.

Hingga tahap laporan kemajuan, sejumlah luaran telah dikembangkan, di antaranya rancangan SOP preventive maintenance furnace, modul atau SOP perawatan mesin sand muller, perangkat checklist dan buku log, kartu riwayat mesin, serta jobsheet pembelajaran. Program juga menargetkan penguatan kerja sama antara UNY dan SMK Negeri 1 Binangun, publikasi kegiatan, serta pengembangan luaran ilmiah dan kekayaan intelektual sesuai tahapan penyelesaian program.

Keberlanjutan menjadi bagian penting dari kegiatan ini. Setelah pelatihan, penerapan preventive maintenance diharapkan tetap dilakukan melalui inspeksi rutin, pengisian buku log, monitoring kondisi komponen kritis, serta integrasi materi pemeliharaan ke dalam jobsheet pembelajaran. Program juga membuka peluang pengembangan sistem pemeliharaan serupa pada peralatan bengkel lainnya sehingga budaya perawatan dapat diterapkan secara lebih luas di lingkungan sekolah.

Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah, program PkM DLK ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap terciptanya pembelajaran vokasi yang lebih aman, terstruktur, relevan dengan kebutuhan industri, serta berkelanjutan. Pemeliharaan peralatan dengan demikian tidak lagi dipandang sebagai kegiatan yang dilakukan ketika mesin mengalami kerusakan, tetapi menjadi bagian dari kompetensi dan budaya kerja yang perlu dibangun sejak proses pendidikan di SMK.